Berapa Kadar Air Gambut Pada Kondisi Irreversible Drying?

Tulisan ini adalah tulisan bapak Dedi Kusnadi Kalsim, salah satu pakar water management IPB yang di sharingkan ke saya via email. Sayang kalau ilmu ini hanya berhenti di saya, sehingga saya share-kan via bangpohan.com.

Ini kutipan tulisan orang lain pertama yang saya posting di blog ini. Semoga bermanfaat…..

img20160611093709
gambar bangunan overflow untuk menjaga permukaan air di kebun sawit

D.K. Kalsim, 4 Oktober 2016 – dedikalsim@yahoo.com

Hal yang paling ditakuti pengelola gambut ialah overdrain, yang dapat menyebabkan gambut mengering. Sekali mengering ia sulit kembali basah. Di saat awal mengering gambut melapuk cepat sekali dan berbagai senyawa kimia dihasilkan.  Hasil pelapukan kimia mengering menjadi bahan keras (seperti pelitur), yang menyelimuti sisa gambut yang tidak sempat melapuk dan terbentuklah pasir gambut yang keras tapi ringan. Bila air kembali menggenangi, maka selimut kimia yang mengeras menghalangi air membasahi gambut. Dan pasir gambut kering ini akan mengambang (bobot jenis <1) dan hanyut mengikuti gerak air. Kalau ini terjadi lahan gambut mengalami erosi dan mudah terbakar. Kondisi ini disebut dengan irreversible drying atau kering tak balik, dimana gambut sudah tak mampu lagi menyerap air. Ini yang dimaksud dengan degradasi tanah gambut (Goeswono Soepardi, 1997).

Pertanyaan (1): pada kadar air berapa irreversible drying ini terjadi?.

Beberapa ahli memberikan angka yang berbeda: (a) kurang dari 200% (w/w), (b) kurang dari 100% (w/w), (c) sekitar 70% (w/w), (d) Fibrik 364% (w/w), Hemik 263% (w/w), Saprik 253% (w/w) (Supiandi Sabiham, 2000)

Untuk menjawab pertanyaan itu dapat dilakukan percobaan laboratorium sebagai berikut:

  • Sejumlah ± 5 kg gambut diambil dari lapangan,
  • Contoh dibagi menjadi 12 bagian diberi nomor sample dari 1 sampai 12, masing-masing dibagi 2 lagi jadi a dan
  • Sample 1 (a+b) dimasukan ke oven selama 24 jam (suhu 110o C), 2 (a+b) selama 22 jam, 3(a+b) selama 20 jam, 4(a+b) selama 18 jam, seterusnya selang 2 jam sampai sample 1(a+b) selama 2
  • Masing-masing sample (nomor a) setelah dioven sesuai dengan waktunya, didinginkan dan dimasukan dalam gelas Jika contoh tanah tenggelam, maka artinya gambut masih mampu menyerap air, tetapi jika ga, mmbut mengapung tidak tenggelam artinya gambut sudah tak mampu menyerap air lagi. Misalnya nomor 3a mengapung, maka kita hitung kadar airnya dengan cara menimbang berat basah (3b), kemudian keringkan lagi dioven selama 24 jam dan hitung lagi berat keringnya. Sehingga kadar air gambut pada waktu mengapung dapat diketahui. Jika sample no 3 (pengeringan selama 20 jam) mengapung, maka selang pengeringan dapat diperkecil jadi 1 jam, untuk melihat apakah pengeringan 19 jam juga sudah mengapung.

Pertanyaan (2): Pada musim kemarau (MK) kadar air irreversible drying  di permukaan tanah akan terjadi pada kedalaman airtanah berapa cm?

Untuk mengetahui hal tersebut perlu diambil contoh tanah gambut di permukaan (0-10 cm) pada berbagai kedalaman air tanah di MK.

Dari data ini dapat diketahui berapa maksimum kedalaman air tanah pada MK yang harus dikelola supaya tidak terjadi irreversible drying pada tanah gambut.

Sebagai contoh berdasarkan penelitian profil lengas tanah pada MK, pada kedalaman airtanah 100 dan 130 cm di lahan gambut HTI dengan tanaman akasia tercantum pada Gambar 1. Jika lengas tanah 250% (w/w) sebagai batas kritis kering tak balik, maka kedalaman airtanah pada musim kemarau (MK) tidak boleh lebih dari 130 cm di bawah permukaan tanah.

grafik
Gambar 1. Profil lengas tanah di permukaan pada musim kemarau di HTI

Pertanyaan (3): Bagaimana caranya mengelola kedalaman air tanah di lahan gambut supaya pada musim kemarau (MK) tidak lebih dari 130 cm?

Di setiap blok kebun di saluran kolektor atau saluran utama dilengkapi dengan bangunan pintu air dilengkapi dengan pelimpah (spillway overflow) yang elevasi ambangnya (crest) bisa diatur (biasanya dengan tumpukan karung pasir).

Laju penurunan muka airtanah di setiap blok kebun pada MK harus dipantau besarnya berapa cm/hari. Misalkan dalam satu blok pengelolaan air  penurunan muka airtanah pada MK adalah sebesar 1 cm/hari. Supaya pada akhir MK (Agustus/September) kedalaman airtanah maksimum 130 cm, maka pada kondisi MK dengan 90 hari kering (tak ada hujan), pada awal MK atau akhir MH (musim hujan) muka air tanah harus berada pada kedalaman 130 – (90×1) = 40 cm di bawah permukaan tanah. Kedalaman air tanah 40 cm selama beberapa minggu pada akhir MH masih tidak berpengaruh negatif baik pada tanaman sawit maupun akasia.

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s